Rabu, 14 Maret 2018

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dunia Bisnis secara Umum



Lingkungan sangat berpengaruh terhadap  keberhasilan atau kegagalan dalam bisnis, karena elemen-elemen yang ada di dalam lingkungan dapat mendorong dan dapat juga menghambat aktifitas bisnis. Itu diakibatkan karena perubahan yang terjadi di dalam lingkungan akan berdampak positif ataupun negatif terhadap aktifitas bisnis.

Salah satu contoh dampak negatif dari perubahan lingkungan adalah saat pemerintah membatasi kuota kacang kedelai dari luar negeri itu akan mempengaruhi harga jual kacang kedelai itu sendiri, dan konsumen menjadi terbeban. Saat harga jual naik itu akan mengakibatkan penurunan penjualan dan akan menyebabkan dampak buruk terhadap bisnis tersebut.

Dan selain dampak negatif ada juga dampak positif dari perubahan lingkungan adalah kemajuan TI yang membuat segala operasional usaha menjadi lebih mudah dan praktis.

Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bisnis, antara lain :
1.     Faktor Internal
Faktor internal disini dipengaruhi oleh kemampuan-kemampuan SDM dalam mengelola bisnis tersebut antara lain : Manajer, Karyawan, Pengelola, dan Pemegang Saham.
                                                                                   
2.     Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah keadaan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang datang dari luar yang akan menentukan keberhasilan dari bisnis tersebut. Misal : Konsumen, Pemasok, Pesaing, Keadaan Ekonomi, Kondisi Sosial, Kondisi Geografis, Teknologi, dll.

Sumber :

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis dan Etika Profesi



A.    Prinsip-Prinsip Etika Bisnis

Pada dasarnya prinsip-prinsip etika bisnis tidak jauh berbeda dengan prinsip-prinsip yang ada di kehidupan sehari-hari kita, dan prinsip-prinsip tersebut juga berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat pada umumnya di seluruh belahan dunia.

Menurut (Sonny Keraf, 1998, dikutip oleh Arijanto, 2011), prinsip-prinsip etika bisnis meliputi :
1.      Prinsip Otonomi
Sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

2.      Prinsip Kejujuran
Kegiatan bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil jika tidak didasarkan atas kejujuran.
a.       Jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak.
b.      Kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding.
c.       Jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.

3.     Prinsip Keadilan
Menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.

4.     Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle)
Menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.

5.     Prinsip Integritas
Dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik pimpinan, karyawan, maupun perusahaannya.

B.     Prinsip-Prinsip Etika Profesi

1   -   Prinsip Tanggung Jawab
Seorang profesional harus bertanggung jawab atas profesi yang dimilikinya.

2  -    Prinsip Keadilan
Prinsip yang menuntut seseorang yang profesional agar dalam melaksanakan profesinya tidak akan merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu.

3  -   Prinsip Otonomi
Prinsip yang dituntut oleh kalangan profesional terhadap dunia luar agar mereka diberikan kebebasan sepenuhnya dalam menjalankan profesinya.

4 -   Prinsip Integritas Moral
Seorang yang profesional adalah orang yang mempunyai integritas pribadi atau moral yang tinggi.

Bisnis Sebagai Profesi yang Luhur
Dunia bisnis modern mensyaratkan dan menutut para pelaku bisnis untuk menjadi orang yang profesional.

Sikap profesional pelaku bisnis :
1.      Kemampuan teknis (keahlian, keterampilan).
2.      Komitmen pribadi yang tinggi.
3.      Moral pada profesi (tidak merugikan pihak lain)

Sumber :  

Perkembangan Etika Bisnis



Kemajuan ekonomi suatu negara memacu perkembangan bisnis dan mendorong munculnya pelaku bisnis baru sehingga menimbulkan persaingan yang cukup tajam di dalam dunia bisnis. Hampir semua usaha bisnis bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar­-besarnya (profit­making) agar dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku bisnis dan memperluas jaringan usahanya. Namun terkadang untuk mencapai tujuan itu segala upaya dan tindakan dilakukan walaupun pelaku bisnis harus melakukan tindakan­-tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika dari bisnis itu sendiri.

Berikut perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000):
1.      Situasi Dahulu
Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.

2.    Masa Peralihan: tahun 1960-an ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility.

3.   Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalahmasalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.

4.      Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network (EBEN).

5.      Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.

Sumber :